Ini
tentang Singa putih yang bersedih. Dibawah
bintang-bintang gemerlap di malam musim dingin...
Matanya
menerawang, tersirat memikirkan sesuatu. Raja hutan yang gagah menjadi kucing
manis berbulu putih tebal kala itu. Aumnya terdengar seperti suara jangkrik
kecil malam hari, tak terdengar; seperti berbisik. Badannya, lemah;lelah
seperti ulat di dedaunan. Begitu......tak berdaya. Singa putih itu...memikirkan
sesuatu. sesuatu, yang bahkan tak se-hewan pun tahu.
Hufttt. Ia menarik nafas
panjang nan berat. Letih fikirnya. Memperjuangkan yang bahkan dia sendiripun
tak tahu apa dan untuk apa ia perjuangkan. Kata orang disana, dia punya pasukan
yang kuat, gagah berani nan hebat. Tapi kenyataannya? Sekarang, ia hanya ditemani angin yang
menyentuh bulu-bulu halusnya; pepohonan
yang bergoyang seakan gembira mengetahui singa gagah berani terdiam; dan,
nyanyian tuan jangkrik mengisyaratkan kesedihan mendalam. Tak ada kawan, tak
ada pasukan, bahkan, tak ada lawan yang ingin mengganggunya.
Satu kali....Dua
kali...Tiga kali....Empat kali...matanya mengerjap. Menahan sesuatu. Serasa
sakit, tapi ia tak tahu dimana. Sakitnya, menjalar. Fikirnya kabur. Entah apa yang
ia fikirkan... Sampai sesuatu terasa membasahi matanya.... Singa putih nan
tangguh itu, menangis, dan terlelap. Dalam tidurnya pun, ia menangis...
Aku ingin bebas…..




0 comments:
Post a Comment