Click...
Aku memilih untuk memutar kaset kenangan kita, dan
berdansa dalam harapan. Hingga terbang, menuju yang tak
terbatas. Ini mengasyikan. Dan berbalut kesedihan.
Kamu, adalah Musik.
Kamu adalah sekumpulan nada tak terdengar.
Sekumpulan lirik tak berharga tapi begitu berarti.
Sekumpulan komposisi yang tak begitu indah tapi tak bosan
didengar.
Tapi kamu adalah kamu.
Kita bertemu dalam ketidak sengajaan. Lalu
berbincang dalam kebisuan. Dengan latar malam. Aku memaki kejadian itu dengan
sederet kata indah dan menciptakan siluet malam dengan kerinduan. Mengapa harus
malam menjadi latar, desir angin menjadi musik, dan bintang menjadi penononton
setia?
Karena kamu, Bulan-nya. BulanKu. Setidaknya, pernah menjadi Bulan yang bersinar terang bagiKu.
Tapi kamu, adalah kamu.
Kamu, adalah teka-teki yang terpenjara. Tak
terjawab dalam batas logika. Seharusnya memang tak perlu memakai
logika. Ketika tanya hanya menjadi tanya tak terjawab. Ketika jawaban kebenaran
tak diperdulikan. Kamu, adalah kisah membingungkan yang
tak dapat diterjemahkan. Tak ada bahasa yang bisa mendeskripsikan.
Telah kupatri namamu di ruang kosong lalu menguncinya
dengan rapat dan membiarkan hatiku menempatinya. Ruang
yang didasari rindu yang takan terhenti. Sedikit memaksa dan berlebihan.
Atau, mungkin hanya aku yang terlalu berharap tinggal pada hatimu mencari yang
selama ini tak kutemukan. Bahkan tak kutahu wujudnya?
Jika yang tak kuketahui adalah tentang melupakan, setidaknya aku masih mengingatmu dalam kenangan.
Mungkin kenangan adalah satu-satunya jembatan mengingatmu. Dan ketika kita
memilih melupakan, kamu, adalah cerita indah masa lalu.
Dan akan tetap indah...
Click...
Ah,
playlist laguku habis.




0 comments:
Post a Comment