Hai! Sudah lama ya…hm..
Kali ini, fase Bulan. Tentang cerita yang sama. Bumi, Bulan, dan
Matahari. Sedikit berbeda. Tapi tetap sama.
Setelah malam yang panjaaaang tanpa
Bulan. Dan siang yang tak kunjung datang, dan Bumi yang penat melihat langit
tanpa Bulan. Yang diam-diam merindukan sinar hangat dari Mentari…
Kali ini sedikit berbeda. Bumi mendapatkan fase Bulannya
kembali. Dan, diam-diam kembali mengingat sinar-sinar yang tertinggal dari
Matahari.
Fase Bulan ini sama. Tanpa cacat,
tanpa cela. Dengan kekhasannya datang. Dengan ketepatannya datang. Bulan, kawan
lama Matahari. Menggantikan Bulan lama. Tidak. Bukan menggantikan. Tapi
mengisi. Mengisi malam Bumi. Malam yang panjang, setidaknya begitu bagi Bumi.
Bukan berarti Bumi melupakan
Matahari-nya. Ia, masih mengingat Martahari-nya hanya…Bumi tak berani mengingat
jika ternyata dia masih mengingat Matahari-nya. Berusaha mengelak dan masih
berusaha dari rasanya. Bagi Bumi ini adalah hari, minggu, bulan, tahun, serta
abad baru. Apakah wajar Bumi mengingat fase Bulan dan Bulan-nya yang lalu?
Serta bintang, tumbuhan, manusia, dan bahkan Mataharinya yang lalu? Yang bahkan
telah memiliki “Bumi-nya” sendiri?
Memperhatikan. Ya. Bumi hanya bisa memperhatikan.
Dari jarak yang cukup jauh. Sehingga hangat Mentari tak kembali menyentunya. Hingga
takan ada yang terluka. Baik di dalam maupun di luar Bumi. Dan hari ini, Bumi
memilih untuk menikmati Bulan baru-nya. Bermain. Bercerita. Menjadi kawan.
Hingga memutuskan, kalau Bulan ini,
memang benar fase Bulan baru bagi Bumi.



