Tuesday, 29 October 2013

Hujan di dua puluh sembilan


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQt79MlSp0cQCd9EsP5pfARBqM6CFB9DrnK_xEKOkVrWcDo0RJL

     Hai Tuan, selamat datang di musim penghujan :) Kebetulan hari ini hujan. Bagaimana kabarMu? Dan dia? Kalian baik-baik saja bukan? Hari ini aku menyapamu;dalam benakku. Menyapamu, diingatkan hujan. Tuan terasa semakin menjauh. Bukannya aku tidak berusaha melupakanmu. Aku sudah, ya, aku sudah melupakanmu. Benar-benar melupakanmu. Tapi, tetesan hujan membasuh ingatanku akan dirimu. Setiap hujan, sejak dua puluh sembilan januari dua ribu tiga belas. Bahkan jauh sebelumnya kamu sudah merebut perhatianku. Di bawah tetesan hujan yang menderas, dan hebatnya suara guntur, kamu, dengan payung berwarna biru gelap kecil benar-benar mencuri perhatianku. Ayunan langkahmu menembus hujan, sesekali kamu menengadahkan telapakmu mencoba menangkap bulir-bulir hujan; lalu tersenyum. Tuan, senyummu menenangkan kala itu. Sayangnya, senyum itu  bukan untukku… bulan berikutnya kamu masih tak mau mengembalikan perhatianku. Kala itu kita mulai dekat. Di bawah tetesan hujan di dua puluh sembilan maret dua ribu tigabelas, hujan menahan kita. Di halte bis. Kita berbincang, menunggu angkutan umum jurusan Senen-Kp.Melayu  hingga hujan reda. Untungnya, hujan mengerti, kalau aku ingin terus seperti saat itu. Dan kini, di dua puluh sembilan oktober dua ribu tiga belas, bayanganmu memudar. Sejak kejadian yang lalu. Ah, sepertinya aku lupa. Haha, atau hanya pura-pura melupakan kejadian itu? Yang membuat kamu sedingin hari hujan. Itu pilihanmu Tuan J Selamat malam. Semoga kamu mendapatkan kehangatan di hari hujan ini. Seperti di dua puluh Sembilan juni dua ribu tiga belas, di bawah hujan, berlindung atap gazebo dekat taman daerah Menteng (aku benar-benar merindukannya)

Ps: mengapa selalu terjadi di tgl dua puluh sembilan hari hujan?kalau begitu, selamat tgl dua puluh Sembilan Tuan :)