Hai Tuan, selamat datang di musim penghujan :) Kebetulan hari ini hujan. Bagaimana kabarMu? Dan dia? Kalian baik-baik
saja bukan? Hari ini aku menyapamu;dalam benakku.
Menyapamu, diingatkan hujan. Tuan terasa semakin menjauh. Bukannya aku tidak
berusaha melupakanmu. Aku sudah, ya, aku sudah
melupakanmu. Benar-benar melupakanmu. Tapi,
tetesan hujan membasuh ingatanku akan dirimu. Setiap hujan, sejak dua puluh sembilan januari dua ribu tiga belas.
Bahkan jauh sebelumnya kamu sudah merebut perhatianku. Di bawah tetesan hujan
yang menderas, dan hebatnya suara guntur, kamu, dengan payung
berwarna biru gelap kecil benar-benar mencuri perhatianku. Ayunan langkahmu
menembus hujan, sesekali kamu menengadahkan telapakmu mencoba menangkap
bulir-bulir hujan; lalu tersenyum. Tuan, senyummu menenangkan kala itu. Sayangnya,
senyum itu bukan untukku… bulan berikutnya
kamu masih tak mau mengembalikan perhatianku. Kala
itu kita mulai dekat. Di bawah tetesan hujan di dua
puluh sembilan maret dua ribu tigabelas, hujan menahan kita. Di halte
bis. Kita berbincang, menunggu angkutan umum jurusan Senen-Kp.Melayu hingga hujan reda. Untungnya, hujan mengerti, kalau aku ingin terus seperti saat itu.
Dan kini, di dua puluh sembilan oktober dua ribu tiga
belas, bayanganmu memudar. Sejak kejadian yang lalu. Ah, sepertinya aku
lupa. Haha, atau hanya pura-pura melupakan kejadian itu? Yang membuat kamu sedingin hari hujan. Itu pilihanmu
Tuan J Selamat malam.
Semoga kamu mendapatkan kehangatan di hari hujan ini.
Seperti di dua puluh Sembilan juni dua ribu tiga belas,
di bawah hujan, berlindung atap gazebo
dekat taman daerah Menteng (aku benar-benar merindukannya)
Ps: mengapa
selalu terjadi di tgl dua puluh sembilan hari hujan?kalau begitu, selamat tgl
dua puluh Sembilan Tuan :)


