Monday, 12 May 2014

Untuk yang terkasih



Untuk yang terkasih…

Mentari bersinar diantara sekumpulan awan gelap tebal di langit. Semilir angin menemani sekeping hati yang sepi. Bisu menjalar untuk kesekian kalinya. Dentingan nada penyemangat mengalun samar. Indah, lembut, penuh makna.

Satu persatu kepingan hati tersusun. Didasari tawa, dicampur candaan hangat nan renyah. Ditambah dengan sedikit waktu absurd. Momen kita terekam jelas. Disetiap sedihnya, disetiap candanya, di seriusnya.

Tuan waktu-pun seakan iri menemani hari Kita. Tak tahu dimana, tak tahu kapan, tak tahu gimana situasinya, Kita adalah Kita.

Disetiap air yang mengalir, diantara tumpukan buku yang menanti, diantara hilir mudik keramaian, bahkan diruang kosong tak terjamah. Kita, adalah Kita.

Ini kisah dari yang terkasih untuk mereka yang terkasih.


Kata orang, beribu terimakasih takan sanggup menerjemahkan rasa yang ada. Tak ada rahasia, tak ada malu. Memang takada yang menjamin semua. Tapi, biarlah begini. Dan semoga tetap begini.

Kalian hebat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalian hebat dengan cara kalian. Kalian.............keanehan yang indah.

Terimakasih untuk waktunya! Dinanti tujuan berikutnya! Dengan tawa yang tak tertinggal, dengan cerita yang tak berakhir, dengan janji yang tak terucap.

Dari yang terkasih…
P.s. Ini untuk kalian cin,cip,da,pit dan yang tak tersebut<3

Saturday, 10 May 2014

Kamu adalah Kamu




Click...
Aku memilih untuk memutar kaset kenangan kita, dan berdansa dalam harapan. Hingga terbang, menuju yang tak terbatas. Ini mengasyikan. Dan berbalut kesedihan.
Kamu, adalah Musik.
Kamu adalah sekumpulan nada tak terdengar.
Sekumpulan lirik tak berharga  tapi begitu berarti.
Sekumpulan komposisi yang tak begitu indah tapi tak bosan didengar.
Tapi kamu adalah kamu.

Kita bertemu dalam ketidak sengajaan. Lalu berbincang dalam kebisuan. Dengan latar malam. Aku memaki kejadian itu dengan sederet kata indah dan menciptakan siluet malam dengan kerinduan. Mengapa harus malam menjadi latar, desir angin menjadi musik, dan bintang menjadi penononton setia?
Karena kamu, Bulan-nya. BulanKu. Setidaknya, pernah menjadi Bulan yang bersinar terang bagiKu.
Tapi kamu, adalah kamu.

Kamu, adalah teka-teki yang terpenjara. Tak terjawab dalam batas logika. Seharusnya memang tak perlu memakai logika. Ketika tanya hanya menjadi tanya tak terjawab. Ketika jawaban kebenaran tak diperdulikan. Kamu, adalah kisah membingungkan yang tak dapat diterjemahkan. Tak ada bahasa yang bisa mendeskripsikan.

Telah kupatri namamu di ruang kosong lalu menguncinya dengan rapat dan membiarkan hatiku menempatinya. Ruang yang didasari rindu yang takan terhenti. Sedikit memaksa dan berlebihan. Atau, mungkin hanya aku yang terlalu berharap tinggal pada hatimu mencari yang selama ini tak kutemukan. Bahkan tak kutahu wujudnya?

Jika yang tak kuketahui adalah tentang melupakan, setidaknya aku masih mengingatmu dalam kenangan. Mungkin kenangan adalah satu-satunya jembatan mengingatmu. Dan ketika kita memilih melupakan, kamu, adalah cerita indah masa lalu. Dan akan tetap indah...

Click...
Ah, playlist laguku habis.