Tiga Belas. Tuan, bagi
kebanyakan orang berketurunan Jawa percaya, tiga belas merupakan angka sial. Banyak
kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di angka tiga belas. Aku-pun percaya
itu. Tapi, ketika Tuan menyapa di tiga belas bulan
ramadhan tahun dua ribu tiga belas, Tuan mengenyahkan kepercayaan itu. Awalnya,
takut menghampiri karena salah memilih untuk dekat dengan Tuan di temani
tanggal tiga belas. Tapi, Tuan buktikan bahwa menjadi dekat dengan Mu, di tanggal tiga belas waktu
itu, kesialan malah absen. Tapi aku tak ingin melawan adat. Tiga belas tetap tiga belas. Dan sekali lagi Aku
percaya itu.
Tapi Tuan tak habis akal untuk tetap mematahkan
kepercayaanKu itu. Tuan menunjukan ke-absen-an sial di tiga belas hari setelah
Kita dekat. Aku pun mulai percaya, tak ada hal aneh
untukKu di angka itu. Tuan tersenyum menang. Kita dekat, Tuan memberi
tiga belas burung kertas padaKu dan menyuruhKu menyimpannya. Burung itu indah.
Berwarna. Ceria. Walaupun tak hidup, dia menunjukanKu
wajah Mu ketika membuatnya…
Masih tentang tiga belas. Tiga belas hari setelah
Tuan memberikan burung kertas itu, kecerian mulai datang bergantian. Tuan
berhasil menunjukan kepercayaan itu tak ada. Hingga,
timbulah getaran yang jauh sebelumnya
Aku tak pernah merasakannya lagi. Oh! Banyak remaja mengatakan
tandaKu menyukaiMu. Tapi, apa iya? Tepat tiga belas hari setelah kejadian
burung kertas, Aku langsung meyukainMu? Di luar dugaanKu, di hari itu pula Tuan menyatakan Tuan pun merasakan getaran
yang sama. Lalu?
Aku tak lekas menjawabMu. Aku bingung. Tak ingin melawan adat, tapi tak ingin pula berpura.
Tepat di tiga belas bulan September di dua ribu
tiga belas, aku menyetujui pernyataanMu. Tuan memang
benar. Tak ada kesialan di angka tiga belas. Tak ada kejadian aneh pula.
Yang Aku tahu sekarang, Tiga Belas itu KamuTur.
Selamat tanggal tiga belas \:D/
Ps: semoga banyak yang
merasakan kecerian tiga belas lainnya!




