Cerita
ku mengenangmu. Selalu
tentangmu. Dalam malamnya, dalam paginya, dalam siangnya. Kisah yang telah
lampau mengingatkan ku akan sosokmu. Seperti memutar
kaset cerita indah yang lama tersimpan. Tak terjamah, yang kutempatkan
dalam ruang kosong hatiku.
Ceritamu
tentang Puteri dan Pangeran,
puisi tak beraturan yang kau buat dengan berdasar kecewamu, atau seperangkat
nada yang kau lagukan dari hatimu. Pertandakah itu? Jika ya, aku telat
menyadari. Hei, bukankah sudah ku katakan? Sinyalmu tak
cukup kuat menyentuh fikirku. Jangan lakukan itu.
Lariku
mengejar tuan waktu tak cukup kuat untuk melepasmu dalam angan ku. Dalamnya air
tak cukup ku selami untuk melebur sosokmu. Teriknya mentari tak cukup panas
membakar rasaku. Harapku tetap sama. Kau berbalik dan
menahan waktu. Waktu untukku. Untuk kita. Berbalik ketika semua
terkendali dalam alurnya. Tetap dalam ceritanya. Ya,
egoku besar dan bertambah besar. Bukankah kau tahu itu?
Lupakan soal
Matahari itu. Enyahkan saja tentang ceritera Bulan. Tak ada Bulan lama ataupun
Bulan baru. Bumi? Abaikan saja Buminya. Ataupun tentang welcome-nya Bumi pada Bulan barunya. Karena sama sekali, tak ada Matahari, Bulan, atau Bumi.
Lupakan
tentang hujan. Dan biarkan tanggal dua puluh sembilan terlewat. Tak ada kertas lagi untuk bercerita tentang kejadian di tiga
belas. Dan biarkan malam Gong Xi Fa Cai hening tanpa hiruk-pikuk
kemeriahan kembang api. Ketika sudah tak ada pilihan maupun takdir yang
tersisa. Bahkan hanya ada pengabaian dan diabaikan yang telah basi. Jangan tanya bagaimana bisa terjadi semua cinta dalam diam
itu ketika tak ada cinta yang berdiam diri? Tak pernah ada.
Terfikir
sejenak, bagaimana bisa mengalirnya kata-kataku mengenang sosokmu. Ketika,
bahkan tak ada cukup rasa buatku? Tersirat kata nan
indah memaki keadaan. Memaki tuan waktu. Memaki kumpulan rasa. Memakimu.
Tahukah?
Ketika semua ceritera usai. Catatan baruku terbuka. Dan
kau tahu? Ini bukan lagi tentangmu. Atau tentangnya. Bahkan ini juga
bukan tentangku. Ceritera kita usai. Seusai ku
memaki keadaan. Seusai senandung lagu indah kuteriakkan.
Dan dalam harapku, tak pernah ingin cerita ini
usai, karena tak ada cukup alasan dan tak ada cukup akhir untuk cerita ini.
Tapi aku harus. Membiarkan semuanya usai. Dan cerita
ini usai, berakhir. Terimakasih. Menawarkanku ceritamu. Memberiku kisah
ini. Terimakasih.
Kini
aku terbang. Dengan
sebelumnya meninggalkan kepingan cerita laguku, dan berlari dengan harap yang
besar untuk terbang. Dan sekarang aku terbang. Terbang
menuju yang tak terbatas. Menuju tempat yang tak ku tahu. Biarkan angin
membawaku. Biarkan rasaku melebur menjadi butiran-butiran kecil, kemudian
berkumpul membentuk awan putih. Dan ketika waktunya usai, biarkan butiranku
mencair menuju bumi-Nya.
Sekali
lagi, terimakasih
akan waktu dan ceritanya. Aku pergi.








