Wednesday, 11 June 2014

Usai






Cerita ku mengenangmu. Selalu tentangmu. Dalam malamnya, dalam paginya, dalam siangnya. Kisah yang telah lampau mengingatkan ku akan sosokmu. Seperti memutar kaset cerita indah yang lama tersimpan. Tak terjamah, yang kutempatkan dalam ruang kosong hatiku.

Ceritamu tentang Puteri dan Pangeran, puisi tak beraturan yang kau buat dengan berdasar kecewamu, atau seperangkat nada yang kau lagukan dari hatimu. Pertandakah itu? Jika ya, aku telat menyadari. Hei, bukankah sudah ku katakan? Sinyalmu tak cukup kuat menyentuh fikirku. Jangan lakukan itu.

Lariku mengejar tuan waktu tak cukup kuat untuk melepasmu dalam angan ku. Dalamnya air tak cukup ku selami untuk melebur sosokmu. Teriknya mentari tak cukup panas membakar rasaku. Harapku tetap sama. Kau berbalik dan menahan waktu. Waktu untukku. Untuk kita. Berbalik ketika semua terkendali dalam alurnya. Tetap dalam ceritanya. Ya, egoku besar dan bertambah besar. Bukankah kau tahu itu?

Lupakan soal Matahari itu. Enyahkan saja tentang ceritera Bulan. Tak ada Bulan lama ataupun Bulan baru. Bumi? Abaikan saja Buminya. Ataupun tentang welcome-nya Bumi pada Bulan barunya. Karena sama sekali, tak ada Matahari, Bulan, atau Bumi.

Lupakan tentang hujan. Dan biarkan tanggal dua puluh sembilan terlewat. Tak ada kertas lagi untuk bercerita tentang kejadian di tiga belas. Dan biarkan malam Gong Xi Fa Cai hening tanpa hiruk-pikuk kemeriahan kembang api. Ketika sudah tak ada pilihan maupun takdir yang tersisa. Bahkan hanya ada pengabaian dan diabaikan yang telah basi. Jangan tanya bagaimana bisa terjadi semua cinta dalam diam itu ketika tak ada cinta yang berdiam diri? Tak pernah ada.

Terfikir sejenak, bagaimana bisa mengalirnya kata-kataku mengenang sosokmu. Ketika, bahkan tak ada cukup rasa buatku? Tersirat kata nan indah memaki keadaan. Memaki tuan waktu. Memaki kumpulan rasa. Memakimu.

Tahukah? Ketika semua ceritera usai. Catatan baruku terbuka. Dan kau tahu? Ini bukan lagi tentangmu. Atau tentangnya. Bahkan ini juga bukan tentangku. Ceritera kita usai. Seusai ku memaki keadaan. Seusai senandung lagu indah kuteriakkan.

Dan  dalam harapku, tak pernah ingin cerita ini usai, karena tak ada cukup alasan dan tak ada cukup akhir untuk cerita ini. Tapi aku harus. Membiarkan semuanya usai. Dan cerita ini usai, berakhir. Terimakasih. Menawarkanku ceritamu. Memberiku kisah ini. Terimakasih.

Kini aku terbang. Dengan sebelumnya meninggalkan kepingan cerita laguku, dan berlari dengan harap yang besar untuk terbang. Dan sekarang aku terbang. Terbang menuju yang tak terbatas. Menuju tempat yang tak ku tahu. Biarkan angin membawaku. Biarkan rasaku melebur menjadi butiran-butiran kecil, kemudian berkumpul membentuk awan putih. Dan ketika waktunya usai, biarkan butiranku mencair menuju bumi-Nya.


Sekali lagi, terimakasih akan waktu dan ceritanya. Aku pergi.

Monday, 12 May 2014

Untuk yang terkasih



Untuk yang terkasih…

Mentari bersinar diantara sekumpulan awan gelap tebal di langit. Semilir angin menemani sekeping hati yang sepi. Bisu menjalar untuk kesekian kalinya. Dentingan nada penyemangat mengalun samar. Indah, lembut, penuh makna.

Satu persatu kepingan hati tersusun. Didasari tawa, dicampur candaan hangat nan renyah. Ditambah dengan sedikit waktu absurd. Momen kita terekam jelas. Disetiap sedihnya, disetiap candanya, di seriusnya.

Tuan waktu-pun seakan iri menemani hari Kita. Tak tahu dimana, tak tahu kapan, tak tahu gimana situasinya, Kita adalah Kita.

Disetiap air yang mengalir, diantara tumpukan buku yang menanti, diantara hilir mudik keramaian, bahkan diruang kosong tak terjamah. Kita, adalah Kita.

Ini kisah dari yang terkasih untuk mereka yang terkasih.


Kata orang, beribu terimakasih takan sanggup menerjemahkan rasa yang ada. Tak ada rahasia, tak ada malu. Memang takada yang menjamin semua. Tapi, biarlah begini. Dan semoga tetap begini.

Kalian hebat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalian hebat dengan cara kalian. Kalian.............keanehan yang indah.

Terimakasih untuk waktunya! Dinanti tujuan berikutnya! Dengan tawa yang tak tertinggal, dengan cerita yang tak berakhir, dengan janji yang tak terucap.

Dari yang terkasih…
P.s. Ini untuk kalian cin,cip,da,pit dan yang tak tersebut<3

Saturday, 10 May 2014

Kamu adalah Kamu




Click...
Aku memilih untuk memutar kaset kenangan kita, dan berdansa dalam harapan. Hingga terbang, menuju yang tak terbatas. Ini mengasyikan. Dan berbalut kesedihan.
Kamu, adalah Musik.
Kamu adalah sekumpulan nada tak terdengar.
Sekumpulan lirik tak berharga  tapi begitu berarti.
Sekumpulan komposisi yang tak begitu indah tapi tak bosan didengar.
Tapi kamu adalah kamu.

Kita bertemu dalam ketidak sengajaan. Lalu berbincang dalam kebisuan. Dengan latar malam. Aku memaki kejadian itu dengan sederet kata indah dan menciptakan siluet malam dengan kerinduan. Mengapa harus malam menjadi latar, desir angin menjadi musik, dan bintang menjadi penononton setia?
Karena kamu, Bulan-nya. BulanKu. Setidaknya, pernah menjadi Bulan yang bersinar terang bagiKu.
Tapi kamu, adalah kamu.

Kamu, adalah teka-teki yang terpenjara. Tak terjawab dalam batas logika. Seharusnya memang tak perlu memakai logika. Ketika tanya hanya menjadi tanya tak terjawab. Ketika jawaban kebenaran tak diperdulikan. Kamu, adalah kisah membingungkan yang tak dapat diterjemahkan. Tak ada bahasa yang bisa mendeskripsikan.

Telah kupatri namamu di ruang kosong lalu menguncinya dengan rapat dan membiarkan hatiku menempatinya. Ruang yang didasari rindu yang takan terhenti. Sedikit memaksa dan berlebihan. Atau, mungkin hanya aku yang terlalu berharap tinggal pada hatimu mencari yang selama ini tak kutemukan. Bahkan tak kutahu wujudnya?

Jika yang tak kuketahui adalah tentang melupakan, setidaknya aku masih mengingatmu dalam kenangan. Mungkin kenangan adalah satu-satunya jembatan mengingatmu. Dan ketika kita memilih melupakan, kamu, adalah cerita indah masa lalu. Dan akan tetap indah...

Click...
Ah, playlist laguku habis.

Thursday, 10 April 2014

Singa Putih Bersedih




                                 Ini  tentang  Singa putih yang bersedih. Dibawah bintang-bintang gemerlap di malam musim dingin...

                                 Matanya menerawang, tersirat memikirkan sesuatu. Raja hutan yang gagah menjadi kucing manis berbulu putih tebal kala itu. Aumnya terdengar seperti suara jangkrik kecil malam hari, tak terdengar; seperti berbisik. Badannya, lemah;lelah seperti ulat di dedaunan. Begitu......tak berdaya. Singa putih itu...memikirkan sesuatu. sesuatu, yang bahkan tak se-hewan pun tahu. 

                                Hufttt. Ia menarik nafas panjang nan berat. Letih fikirnya. Memperjuangkan yang bahkan dia sendiripun tak tahu apa dan untuk apa ia perjuangkan. Kata orang disana, dia punya pasukan yang kuat, gagah berani nan hebat. Tapi kenyataannya?  Sekarang, ia hanya ditemani angin yang menyentuh bulu-bulu halusnya;  pepohonan yang bergoyang seakan gembira mengetahui singa gagah berani terdiam; dan, nyanyian tuan jangkrik mengisyaratkan kesedihan mendalam. Tak ada kawan, tak ada pasukan, bahkan, tak ada lawan yang ingin mengganggunya. 

                                   Satu kali....Dua kali...Tiga kali....Empat kali...matanya mengerjap. Menahan sesuatu. Serasa sakit, tapi ia tak tahu dimana. Sakitnya, menjalar. Fikirnya kabur. Entah apa yang ia fikirkan... Sampai sesuatu terasa membasahi matanya.... Singa putih nan tangguh itu, menangis, dan terlelap. Dalam tidurnya pun, ia menangis...

                      Aku ingin bebas…..

Wednesday, 29 January 2014

Surat untuk Cintaku







Dear, Cintaku…

Waktu berjalan cepat. Mengisyaratkan dua hati yang bersatu.  Hati terikat cinta. Tapi,bukankah cinta butuh waktu? Katamu, melihatku berdebar. Menyentuhku, sejuk. Terlihat sketsa alam nan Indah dimataku;katamu. Bisu, ketika kamu bersamaku. Linglung seperti anak kuda belajar berlari ketika dekat denganku. Katamu, cinta itu sulit. Dan, cinta itu aku. Sesulit itukah arti hatiku? Katamu, cinta itu berubah. Merubahku. Bukankah wajah asli cinta adalah mencinta apa yang terlihat. Bukan yang ingin dilihat?

Katamu, lupakan saja Bumi, Bulan, dan Matahari. Tapi kamu juga yang berceritera tentang mereka. Katamu,cinta itu keyakinan. Keyakinan mencinta. Tapi kamu lupa. Cinta itu keyakinan. Keyakinan bahwa cintamu mencintaimu. Katamu, cinta itu tentang kupu-kupu, burung, dan hewan lain. Tapi kamu lupa. Cinta bukan tentang mereka.  Cinta tentang apa yang mereka lakukan. Bersama. Katamu, cinta itu tentang kejujuran. Tapi kamu lupa, adakah kejujuran tak absen di harimu? Adakah ia bersamamu tiap detik? Katamu, sakit dibohongi. Tapi, ah, terlalu banyak tapi.

Kisahku tak menarik untukmu;mungkin. Tapi tahukah? Ada hati dibalik asanya. Ada rindu dibalik jaraknya. Ada kejujuran dibalik bohongnya. Ada kepastian dibalik ragunya. Ada maaf dibalik amarahnya. Ada arti dibalik tuturnya . Ada kamu, dibalik masa lalunya.. Ada kita, dibalik harapnya. Itu karena kamu. Kamu, ya kamu. Kamu yang mengaku cintaku ;p

Tertanda,
Cintamu