Kalian percaya Takdir? Atau mungkin, kalian lebih mempercayai tentang pilihan? Awalnya, Aku hanya mempercayai tentang pilihan. Seperti Kamu memilih Aku, bukan Dia. KataKu, itu pilihan hatiMu. Tapi kataMu, Takdir yang akhirnya mempertemukan Kita. Disini. Seperti Kamu yang memilih mendekatiKu daripada mengabaikanKu. Katamu, Takdir telah menuliskan bahwa kamu harus mendekatiKu. Tapi kataKu, pilihanMulah yang menguatkan Kamu mendekatiKu. Semakin dekat. Seperti Kamu yang memilih untuk lebih menyukaiKu daripada membenciKu. Katamu, menjadi "Kita" itu memang sudah Takdir Kamu&Aku. Tapi, lagi-lagi kataKu, itu pilihanMu dari setiap perlakuanKu terhadapMu. Manis, tapi Gombal. Dan lagi-lagi seperti usahamu memenangkan hatiKu. Katamu, Takdir Kamu ya memang harus begitu. Tapi Aku beda, kataKu itu pilihanMu untuk berusaha atau menyerah menyukaiKu. Emm atau seperti Kamu menungguKu ketika jelas-jelas Aku tidak menginginkanMu. Katamu, Takdir telah menetapkan kalau Kamu harus menungguKu. Tapi Aku menyangkal dengan berkata, itu adalah pilihanMu untuk setia bertahan atau pergi meninggalkan. Klasik, tapi Pahit. Atau mungkin seperti Kamu terus berusaha mendekatiKu ketika tak ada satupun balasanKu? Katamu, itu Takdir bahwa Kamu harus terus berusaha. Tapi, tak lelah Aku bilang, itu pilihanMu, bertahan disakiti, atau pergi dengan senang hati. Dramatis&Klasik dengan sentuhan Kuno. Dan ketika Aku lelah dan memutuskan menyerah untuk menaggapiMu, lagi-lagi Kamu bilang itu takdir. Tapi tetap bagiKu itu pilihanKu. Tapi ketika semua kepura-puraanMu terlihat, kamu baru menyebutnya pilihanMu atas lelahnya Kamu menginginkanKu. Dan saat itu, Aku mantap menyebutnya, Takdir. Takdir tak membolehkan Aku&Kamu menjadi "Kita". Dan setelahnya, ketika kamu datang padaKu lagi menjanjikan manisnya madu, Kamu bilang pilihanMu utuk tetap memilihKu , bukan Dia. Tapi terlambat, Bagiku, takdir memberitahuKu kalau memang tak pernah ada "Kita".
Dan kini, Kamu berjalan dengan sekelumit pilihanmu dan Aku dengan setianya mengikuti Takdirku. Terimaksih, memberikanku pilihan antara mempercayai takdir atau tidak. Tapi kini, sejujurnya, pilihan mengikuti takdir kita. Bukan takdir yang menentukan pilihan Kita...





0 comments:
Post a Comment