Monday, 4 February 2013

Matahari, Bumi, dan Bulan

Ketika asa menjadi rasa,
Ketika penantian berujung kebahagian,
Haruskah membanggakan keberhasilan?
Atau, meratapi pengorbanan?...

Rasanya lelah, berjalan tanpa henti, tanpa arah, tanpa tujuan...
Dengan hati yang seok, dengan langkah yang guntai.
Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli.
Nyatanya? Semua ego.
Hingga malaikat pun tak beranjak dari khayangannya hanya untuk sekadar melihat...
Bulan pun enggan kembali, tuk bersinar sedetik saja.
Memang, bulan harus berputar.
Tapi, jika hanya sedetik saja apa juga enggan?
Padahal, Bumi merindukan Bulan.

Tanpa Bumi sadari pun, Matahari menunggunya.
Tanpa Bumi sadari pun, Tuhan menugaskan Matahari mengunjungi Bumi.
Walau tanpa izin Bumi, Matahari bertahan; menunggu.
Bumi enggan, Matahari bertahan.
Dengan hangat cinta kasih Matahari, Bulan risih.
Tapi waktu berdebat dengan Bumi.
Bumi bingung.
Ia merindukan Bulan, tapi diam-diam hatinya tercuri Matahari.
Bisakah Matahri menggantikan Bulan?
Bisakah Matahari melakukann apa yang Bulan lakukan?
Tidak, tidak kan?
Dan Matahari menunggu dengan setia...

Jika Bulan itu Dia, Bumi itu Aku, dan Matahari Kamu.
Entah apa jadinya.
Membingungkan, Membosankan...


jakarta, dalam bimbang

0 comments:

Post a Comment