
Hai Tuan Hari ini tepat tanggal satu
November dua ribu tiga belas. Sudah beberapa bulan ini, kita tak terhubung.
Tapi bayangan sinarmu tak pernah absen dari daftar
kebutuhanku. Rasanya sudah seribu satu cara Bumi lakukan. Berlebihan
memang. Tapi begitulah kenyataannya. “Biarlah,
ku rela, melepasmu meninggalkan aku. Berikanlah aku, kekuatan untuk lupakanmu.”
Atau seperti ini, “Sadarkan aku Tuhan,
dia bukan milikku, biarkan waktu, waktu hapus aku.” Kamu ingat ke-dua lagu itu? Maaf Tuan kalau hatimu tersinggung. Lagu itu
menyentilku. Aku tahu kamu memang benar-benar menyindirku. Maaf bila telat
menyadari itu. Tapi aku berusaha tidak menyesal. Bayangmu sudah jauh.
Perederanmu tak mungkin berbalik pada Bumi
ini.
Sebelumnya, sinarmu sudah menarik
perhatianku. Caramu menunjukan hangat dirimu, caramu menunjukan kegunaanmu, dan
caramu menunjukan kelebihanmu. Sebenarnya itu sudah cukup. Bumi hanya menguji
mu, menguji keyakinanmu. Sebelumnya, Bumi pun butuh sinarmu. Sebelumnya, kamu
ingat? Caramu berusaha mengambil alih Bumi dari Bulan-nya? Itu menarik. Membuat Bumi ini merasa…dibutuhkan…
dia merasa beruntung. Tapi sinarmu terlalu panas membakar. Hingga
kepura-puraanmu meluber. Menampakan maksudmu sesunggunya. Bumi kecewa sejak itu.
Setelahnya, tak ada lagi pergerakanmu.
Sinarmu malu-malu menyentuh Atmosfir Bumi. Malukah kamu? Melihatmu
menggelitikku. Entah kapan terakhir kali kita berbincang. Kamu pergi dengan sinar, kehangatan, dan peredaranmu. Tanpa
pamit tentunya. Dengan sebelumnya kau pertemukan Bumi dengan Bulan baru.
Terimakasih untuk itu. Bulan baru-mu tepat untukku.
Tapi masa periode berikutnya,
Bumi memerlukan cahaya hangat-Nya.
Bumi mencoba mengikuti sisa peredaranmu. Diam-diam. Dan, tanpa suara. Melihatmu baik-baik saja Bumi senang. Walaupun dari jauh. Dari
sisa peredaranmu yg mulai hilang.
Bumi, merindukanmu. Hanya sekedar merindukan setiap hari yang lampau.
Bukan dirimu. Haha lucu.
Sebenarnya, arghhhh Bumi lelah. Bumi mengaku memperhatikanmu dari jauh. Hanya itu. Dan
sekarang, dia benar-benar Ingin melupakan-Mu.
Dan, cerita ini, akhir dari cerita Bumi, Bulan, dan
Matahari. Selamat tinggal. Cerita kita usai. Tinta penaku sudah
tersendat. Lelah meneruskan. Biarkan ia terlelap sejenak. Melupakan yang telah
terjadi. Walaupun satu pesan singkat darimu bisa
mengubahnya, tapi Bumi ini berusaha. Selamat, tinggal. Semoga ceritamu lebih indah, Tuan Mentari ;)
Ps : Terimakasih
atas waktunya,dan sampaikan maafku untuk Bumi-Mu. Jangan sinari ia terlalu
panas;)



0 comments:
Post a Comment