Thursday, 7 November 2013

Akhir Bumi, Bulan, Matahari





Hai Tuan  Hari ini tepat tanggal satu November dua ribu tiga belas. Sudah beberapa bulan ini, kita tak terhubung. Tapi bayangan sinarmu tak pernah absen dari daftar kebutuhanku. Rasanya sudah seribu satu cara Bumi lakukan. Berlebihan memang. Tapi begitulah kenyataannya. “Biarlah, ku rela, melepasmu meninggalkan aku. Berikanlah aku, kekuatan untuk lupakanmu.”  Atau seperti ini, Sadarkan aku Tuhan, dia bukan milikku, biarkan waktu, waktu hapus aku.”  Kamu ingat ke-dua lagu itu? Maaf  Tuan kalau hatimu tersinggung. Lagu itu menyentilku. Aku tahu kamu memang benar-benar menyindirku. Maaf  bila telat menyadari itu. Tapi aku berusaha tidak menyesal. Bayangmu sudah jauh. Perederanmu tak mungkin berbalik pada Bumi ini.
Sebelumnya, sinarmu sudah menarik perhatianku. Caramu menunjukan hangat dirimu, caramu menunjukan kegunaanmu, dan caramu menunjukan kelebihanmu. Sebenarnya itu sudah cukup. Bumi hanya menguji mu, menguji keyakinanmu. Sebelumnya, Bumi pun butuh sinarmu. Sebelumnya, kamu ingat? Caramu berusaha mengambil alih Bumi dari Bulan-nya? Itu menarik. Membuat Bumi ini merasa…dibutuhkan… dia merasa beruntung. Tapi sinarmu terlalu panas membakar. Hingga kepura-puraanmu meluber. Menampakan maksudmu sesunggunya.  Bumi kecewa sejak itu.
Setelahnya, tak ada lagi pergerakanmu. Sinarmu malu-malu menyentuh Atmosfir Bumi. Malukah kamu? Melihatmu menggelitikku. Entah kapan terakhir kali kita berbincang. Kamu pergi dengan sinar, kehangatan, dan peredaranmu. Tanpa pamit tentunya. Dengan sebelumnya kau pertemukan Bumi dengan Bulan baru. Terimakasih untuk itu. Bulan baru-mu tepat untukku.
Tapi masa periode berikutnya, Bumi memerlukan cahaya hangat-Nya. Bumi mencoba mengikuti sisa peredaranmu. Diam-diam. Dan, tanpa suara. Melihatmu baik-baik saja Bumi senang. Walaupun dari jauh. Dari sisa peredaranmu yg mulai hilang.
Bumi, merindukanmu. Hanya sekedar merindukan setiap hari yang lampau. Bukan dirimu. Haha lucu.
Sebenarnya, arghhhh Bumi lelah. Bumi mengaku memperhatikanmu dari jauh. Hanya itu. Dan sekarang, dia benar-benar Ingin melupakan-Mu. Dan, cerita ini, akhir dari cerita Bumi, Bulan, dan Matahari. Selamat tinggal. Cerita kita usai. Tinta penaku sudah tersendat. Lelah meneruskan. Biarkan ia terlelap sejenak. Melupakan yang telah terjadi. Walaupun satu pesan singkat darimu bisa mengubahnya, tapi Bumi ini berusaha. Selamat, tinggal. Semoga ceritamu lebih indah, Tuan Mentari  ;)
Ps : Terimakasih atas waktunya,dan sampaikan maafku untuk Bumi-Mu. Jangan sinari ia terlalu panas;)

0 comments:

Post a Comment