Thursday, 12 September 2013

Matahari, Bumi, dan Bulan 2


Hai! Sudah lama ya…hm..  Kali ini, fase Bulan. Tentang cerita yang sama. Bumi, Bulan, dan Matahari. Sedikit berbeda. Tapi tetap sama.
Setelah malam yang panjaaaang tanpa Bulan. Dan siang yang tak kunjung datang, dan Bumi yang penat melihat langit tanpa Bulan. Yang diam-diam merindukan sinar hangat dari Mentari…
Kali ini sedikit berbeda. Bumi mendapatkan fase Bulannya kembali. Dan, diam-diam kembali mengingat sinar-sinar yang tertinggal dari Matahari.
Fase Bulan ini sama. Tanpa cacat, tanpa cela. Dengan kekhasannya datang. Dengan ketepatannya datang. Bulan, kawan lama Matahari. Menggantikan Bulan lama. Tidak. Bukan menggantikan. Tapi mengisi. Mengisi malam Bumi. Malam yang panjang, setidaknya begitu bagi Bumi.
Bukan berarti Bumi melupakan Matahari-nya. Ia, masih mengingat Martahari-nya hanya…Bumi tak berani mengingat jika ternyata dia masih mengingat Matahari-nya. Berusaha mengelak dan masih berusaha dari rasanya. Bagi Bumi ini adalah hari, minggu, bulan, tahun, serta abad baru. Apakah wajar Bumi mengingat fase Bulan dan Bulan-nya yang lalu? Serta bintang, tumbuhan, manusia, dan bahkan Mataharinya yang lalu? Yang bahkan telah memiliki “Bumi-nya” sendiri?
Memperhatikan. Ya. Bumi hanya bisa memperhatikan. Dari jarak yang cukup jauh. Sehingga hangat Mentari tak kembali menyentunya. Hingga takan ada yang terluka. Baik di dalam maupun di luar Bumi. Dan hari ini, Bumi memilih untuk menikmati Bulan baru-nya. Bermain. Bercerita. Menjadi kawan. Hingga memutuskan, kalau  Bulan ini, memang benar  fase Bulan baru bagi Bumi.

Selamat datang Bulan baru, selamat datang di Bumi. Semoga cepat-cepat mendapatkan fasenya! :)

                                    

0 comments:

Post a Comment